kon·sis·ten /konsistén/ a 1 tetap (tidak berubah-ubah); taat asas; ajek; 2 selaras; sesuai: perbuatan hendaknya -- dng ucapan (http://www.kbbi.web.id/index.php?w=konsisten)
Kalau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Konsisten berarti tetap (tidak berubah-ubah), selaras. Ini bisa diartikan dalam kehidupan sehari-hari sebagai melakukan sesuatu hal yang tetap.
Disini mengapa saya mengangkat topik konsisten adalah karena keambiguan dari kata Konsisten itu sendiri, yang baru disadari baru-baru ini. Sekarang jika kasusnya begini: Ada seseorang yang mengakui bahwa dirinya tidak konsisten. Dia mengakui bahwa dirinya suka beribadah secara rajin dan mendalam, namun dia juga suka melakukan maksiat. Ketika menyadari dia telah melakukan maksiat, dia menyadari bahwa itu salah dan kembali beribadah. Namun saat kedalaman beribadahnya kurang dan ada kesempatan, ia kembali melakukan maksiat. Dia mengeluhkan bahwa dirinya 'amat sangat tidak konsisten' karena terus menerus mengulangi hal itu. Hal ini ia akui sudah terjadi sejak lama, sejak ia masih kecil. Di saat terpikirkan, Ia menyalahkan dirinya karena merasa tidak konsisten.
Ia tidak menyadari, bahwa kegiatan yang ia katakan 'tidak konsisten' itu telah membentuk suatu pola. Ibadah lalu maksiat, menyesal, lalu beribadah. Lalu maksiat, begitu seterusnya. Terus menerus. Dengan kata lain, secara otomatis dirinya bisa dikatakan "konsisten", iya kan? Karena terus melakukan dua hal itu secara berulang-ulang secara periodik dalam waktu yang lama. Ya, benar. Ia konsisten dalam melakukan dua hal yang berlawanan.
Dalam hal ini, mungkin ia terlalu menghukum dirinya sendiri karena fokus menganggap dirinya tidak konsisten tanpa menyadari bahwa sesungguhnya dirinya telah konsisten. Yah, konsisten dalam keburukan. Ia hanya konsentrasi untuk membuat dirinya Konsisten, tanpa membuat secara spesifik Konsisten apa yang ia mau. Karena jika dengan keadaan diatas pun dia sudah konsisten, iya kan?
Yang harus dilakukannya, adalah Konsisten untuk Beribadah, Konsisten untuk Meninggalkan Maksiat, Konsisten untuk Kebaikan, sehingga perlahan Kekonsistenannya bisa meninggalkan Konsistennya yang dulu...
Sabtu, 29 Desember 2012
Selasa, 27 November 2012
Waktu Itu Aneh
Waktu itu Aneh, benarkah?
Maksudnya aneh disini adalah, mari kita flashback ke tulisan yang pernah saya buat di Tumblr pada tanggal 11 Januari 2010.
"topik pertama yang ingin saya bahas adalah ini. terkadang, momen-momen indah, momen momen seperti bersama keluarga, tertawa bersama. atau momen seperti bersama pasangan (ehem ehem batuk), dan banyak lagi. well, saat saya berada dalam momen itu, saya merasa… mengambang. entahlah, seperti terjadi namun tidak terjadi, seolah-olah anda berasa di dimensi yang berbeda. saya berusaha untuk meresapi momen ini padahal ini sudah saya tunggu-tunggu sejak lama. waktu terasa berputar lebih cepat. mungkin ini akibat perasaan yang tidak percaya bahwa saya memang sedang ada disitu. terkadang saya ingin menampar pipi saya, agar saya sadar. namun, yang paling penting lagi adalah ini. ketika semua selesai, misalkan anda sudah sampai rumah, semua terasa seperti… masa lalu. yaudah, yang tadi udah terjadi, kemarin ya kemarin, tadi ya tadi, udah aja. anda mencoba untuk mengulang momen itu, tapi ya pasti ga sama. anda harus sadar bahwa yang tadi udah menjadi bagian dari masa lalu hidup anda, setelah itu anda harus siap untuk melihat kedepan. entahlah, saya gasuka ini."
Nah sedikit update setelah hampir tiga tahun berlalu, versinya jadi sedikit berbeda. Kali ini, saya bukan merasa mengambang, tapi hambar. Gaada rasa apa-apa. Lalu saya mengecilkan skala saya. Maksudnya, misalkan ketika akan melewati hari yang berat di pagi hari, saya berpikir "Ah nanti juga berlalu kok, nanti malem juga saya bakal berada di kamar lagi, tiduran". Dan anehnya, benar terjadi! Gak aneh sih, tapi yah begitu. Saya seperti melewatkan sebuah proses, padahal proses lah yang paling penting, bukan input ataupun outputnya.
Sudah tiga tahun berlalu, sepertinya saya hanya melakukan kemajuan yang sedikit. Saya sampai search "tentang waktu" atau "keanehan waktu" tapi sedikit yang membahas topik ini. Apakah memang sehebat itukah sang waktu? Okey, kalau skalanya kita perbesar, misalkan dari dulu SMP hingga sekarang Kuliah jelas terasa.
Sekarang, mari kita coba analisa apa permasalahannya. Apakah saya kurang menghargai sang waktu? Yang pasti, saya tidak bisa mempermainkan waktu. Karena Waktu adalah salah satu hal yang kekal, seperti energi. Jika energi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan, Waktu tidak dapat dimajukan, dimundurkan, diprediksi, atau dihapus.
Bagaimana cara menghargai sang waktu? Diri saya pun dari waktu ke waktu terus berubah, saya menulis ini pun kebetulan saja, apa yang terlintas di kepala saya. Mungkin tulisan ini terlalu melankolis (jarang-jarang saya melankolis gini) dan blog ini menjadi 'sampah' yang tepat untuk menumpahkan ke-melankolis-an saya.
Tulisan saya hentikan di sini dulu...
Maksudnya aneh disini adalah, mari kita flashback ke tulisan yang pernah saya buat di Tumblr pada tanggal 11 Januari 2010.
"topik pertama yang ingin saya bahas adalah ini. terkadang, momen-momen indah, momen momen seperti bersama keluarga, tertawa bersama. atau momen seperti bersama pasangan (ehem ehem batuk), dan banyak lagi. well, saat saya berada dalam momen itu, saya merasa… mengambang. entahlah, seperti terjadi namun tidak terjadi, seolah-olah anda berasa di dimensi yang berbeda. saya berusaha untuk meresapi momen ini padahal ini sudah saya tunggu-tunggu sejak lama. waktu terasa berputar lebih cepat. mungkin ini akibat perasaan yang tidak percaya bahwa saya memang sedang ada disitu. terkadang saya ingin menampar pipi saya, agar saya sadar. namun, yang paling penting lagi adalah ini. ketika semua selesai, misalkan anda sudah sampai rumah, semua terasa seperti… masa lalu. yaudah, yang tadi udah terjadi, kemarin ya kemarin, tadi ya tadi, udah aja. anda mencoba untuk mengulang momen itu, tapi ya pasti ga sama. anda harus sadar bahwa yang tadi udah menjadi bagian dari masa lalu hidup anda, setelah itu anda harus siap untuk melihat kedepan. entahlah, saya gasuka ini."
Nah sedikit update setelah hampir tiga tahun berlalu, versinya jadi sedikit berbeda. Kali ini, saya bukan merasa mengambang, tapi hambar. Gaada rasa apa-apa. Lalu saya mengecilkan skala saya. Maksudnya, misalkan ketika akan melewati hari yang berat di pagi hari, saya berpikir "Ah nanti juga berlalu kok, nanti malem juga saya bakal berada di kamar lagi, tiduran". Dan anehnya, benar terjadi! Gak aneh sih, tapi yah begitu. Saya seperti melewatkan sebuah proses, padahal proses lah yang paling penting, bukan input ataupun outputnya.
Sudah tiga tahun berlalu, sepertinya saya hanya melakukan kemajuan yang sedikit. Saya sampai search "tentang waktu" atau "keanehan waktu" tapi sedikit yang membahas topik ini. Apakah memang sehebat itukah sang waktu? Okey, kalau skalanya kita perbesar, misalkan dari dulu SMP hingga sekarang Kuliah jelas terasa.
Sekarang, mari kita coba analisa apa permasalahannya. Apakah saya kurang menghargai sang waktu? Yang pasti, saya tidak bisa mempermainkan waktu. Karena Waktu adalah salah satu hal yang kekal, seperti energi. Jika energi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan, Waktu tidak dapat dimajukan, dimundurkan, diprediksi, atau dihapus.
Bagaimana cara menghargai sang waktu? Diri saya pun dari waktu ke waktu terus berubah, saya menulis ini pun kebetulan saja, apa yang terlintas di kepala saya. Mungkin tulisan ini terlalu melankolis (jarang-jarang saya melankolis gini) dan blog ini menjadi 'sampah' yang tepat untuk menumpahkan ke-melankolis-an saya.
Tulisan saya hentikan di sini dulu...
Senin, 27 Agustus 2012
Help
"..And writing a blog about everything that happens to you will honestly help you."
(Therapist to John Watson in BBC Sherlock)
So, does it work for me?
Apa kabar blog ini?
Tidak. Pertanyaan yang lebih tepat adalah: Apa kabar dirimu, dit?
Baik?
Buruk?
Luar Biasa?
Kalau saat ini (Senin, 27 Agustus 2012, 22.07), tidak baik.
Gaya bahasa menulismu sedikit berubah.
Bukan, bukan karena masa lalu, bagi kawan yang membaca postingan ini. Dimana saya ingin mencoba membuka kembali buku yang sudah lama sekali, namun karena sudah lama, tak ada gunanya dibuka kembali. Bukan juga karena sebuah amanah besar yang aku pangku saat ini. Pokoknya bukan, apapun yang kamu pikirkan.
Well, mungkin ada sedikit pengaruh di mood, namun itu diibaratkan hanyalah debu di atas padang pasir, tak terdeteksi, tak ada pengaruhnya.
Jadi, masalahnya sebesar padang pasir, iyakah?
Padang pasir terluas di mana sih? Kalau Padang Mahsyar itu padang pasir juga bukan? Tempat yang aku takuti...
Tidak konsisten, apapun itu. Itulah masalahku.
Dimana aku berhasil menggunakan topeng. Bukan, bukan topeng. Mungkin jubah, yang membuat semua hal itu tidak terlihat sama sekali. Yang terlihat hanyalah 'kesolehan' yang ditimbulkan dari jubah itu.
Still, kamu tetap tidak bisa menipu satu dzat.
Nanti, waktunya akan tiba.
"..And writing a blog about everything that happens to you will honestly help you."
"Well, it helps me a bit."
"..."
(Therapist to John Watson in BBC Sherlock)
So, does it work for me?
Apa kabar blog ini?
Tidak. Pertanyaan yang lebih tepat adalah: Apa kabar dirimu, dit?
Baik?
Buruk?
Luar Biasa?
Kalau saat ini (Senin, 27 Agustus 2012, 22.07), tidak baik.
Gaya bahasa menulismu sedikit berubah.
Bukan, bukan karena masa lalu, bagi kawan yang membaca postingan ini. Dimana saya ingin mencoba membuka kembali buku yang sudah lama sekali, namun karena sudah lama, tak ada gunanya dibuka kembali. Bukan juga karena sebuah amanah besar yang aku pangku saat ini. Pokoknya bukan, apapun yang kamu pikirkan.
Well, mungkin ada sedikit pengaruh di mood, namun itu diibaratkan hanyalah debu di atas padang pasir, tak terdeteksi, tak ada pengaruhnya.
Jadi, masalahnya sebesar padang pasir, iyakah?
Padang pasir terluas di mana sih? Kalau Padang Mahsyar itu padang pasir juga bukan? Tempat yang aku takuti...
Tidak konsisten, apapun itu. Itulah masalahku.
Dimana aku berhasil menggunakan topeng. Bukan, bukan topeng. Mungkin jubah, yang membuat semua hal itu tidak terlihat sama sekali. Yang terlihat hanyalah 'kesolehan' yang ditimbulkan dari jubah itu.
Still, kamu tetap tidak bisa menipu satu dzat.
Nanti, waktunya akan tiba.
"..And writing a blog about everything that happens to you will honestly help you."
"Well, it helps me a bit."
"..."
Sabtu, 17 Maret 2012
Sisi Gelap
Oke, buat yang sebelumnya sudah pernah mampir ke blog saya, dan mencari-cari post yang judulnya "Sedikit Sesi Curhat.." lalu ternyata sudah tidak ada, jangan panik! Karena emang sengaja saya hapus hehe. Saya pikir-pikir mungkin tulisan saya terlalu tajam, dan kalau saya sendiri baca lagi takut rasa kesal yang dulu muncul lagi.
Mungkin saya akan coba perhalus apa maksud saya. Maksud saya adalah: Hal apa yang bisa membuat 'sisi gelap' dari seseorang keluar?
Sisi gelap? Ya, sisi yang kita tidak pernah melihatnya dalam kehidupan sehari-hari. Sisi yang membuat kita menjadi orang yang 180 derajat berbeda dari sebelumnya. Sisi yang membuat kita bukanlah kita yang biasa dikenal. Apa semua orang memiliki sisi gelap ini? Hampir semua, mungkin. Biasanya, sisi gelap muncul ketika ada sesuatu yang benar-benar, sangat tidak disukainya.
Nah dalam kasus saya, sisi hitam saya muncul ketika menyinggung kesukaan saya: otomotif, mobil, dan kawan-kawannya. Seperti contoh cerita saya dengan sahabat saya '7Friends' yang sekarang 'putus' karena sisi hitam saya keluar ketika mereka memaksa saya ikut ke acara mereka, padahal saya sudah sangat ngebet ke Indonesia International Motor Show 2010. Walaupun pada akhirnya saya ikut ke acara mereka dan tetap bisa ke IIMS, saya tetep saja kesal. Dan juga akhir-akhir ini saat ayah saya mengganti pelek mobil standar ke pelek ring 17 inci yang saya gak suka sama sekali. Hampir sebulan berlalu, saya masih rada kesal kepada ayah saya. Jika beliau membicarakan tentang mobil, saya yah diam aja sambil mangut-mangut, berbeda dibandingkan sebelumnya sangat excited bahkan sampai ngerelain uang tabungan sendiri buat beli beberapa aksesoris untuk mobil.
Ohya sebenarnya apa sih sisi gelap itu? Dalam suatu sumber yang dikutip di kaskus.us: Jika menurut penulis terkenal Amerika, Mark Twain, ia mengatakan, "Everyone is a moon and has a dark side he never shown to anybody" (Setiap orang adalah seperti bulan, mempunyai sisi gelap yang tidak pernah ia tunjukkan kepada orang lain). Masih ingatkah dengan kisah legendaris terkenal yang berjudul Dr Jekyll dan Mr Hyde karya sastrawan Inggris terkemuka, Robert Louis Stevenson? Dalam kisah ini diceritakan soal seorang dokter terkemuka yang mempunyai dua sisi kepribadian. Pada suatu saat, dia adalah seorang dokter yang menolong dan membantu orang, menyelamatkan nyawa orang. Namun, setelah meminum ramuan tertentu, dia pun berubah menjadi seorang malaikat maut pencabut nyawa yang berbahaya. Masih mempunyai hubungan dengan kisah ini, adalah film box office beberapa tahun lalu yakni Star Wars. Dalam salah satu kisahnya yakni serial Return of The Sith, diceritakan soal bagaimana seorang Jedi yang hidupnya terhormat bernama Anakin Skywalkers yang kemudian berubah menjadi pria yang ganas dan berbahaya.
Mungkin kutipan di atas terlalu jauh yah dengan maksud saya. Tapi setidaknya mungkin dapat sedikit gambaran. Konfirmasi bahwa setiap orang pasti memiliki sisi ini, hanya yang jadi perbedaan adalah bagaimana sikap kita terhadap sisi ini?
Menurut analisa saya -yang bukan seorang Psikolog atau ahli dalam kejiwaan, hanya mahasiswa Sains- ada dua macam sikap. Pertama, membiarkan sisi hitam ini terserap, menjadi ciri dari dirinya. Jadi terbalik, sisi inilah yang paling sering muncul, sedangkan sisi terang / sisi baik hanya datang sesekali. Kedua, menyadari kalau sisi gelap itu muncul. Nah disini dibagi lagi, apakah: 1) ia sadar namun membiarkan sisi gelap itu keluar, atau: 2) sadar namun mampu meredamnya?
Mungkin kebanyakan orang berada pada posisi kedua, poin satu. Nah kalau saya? Entahlah, pada kasus '7Friends' tahun 2010 jelas posisi kedua poin satu lah yang saya alami. Namun pada kasus dengan ayah saya, saya saat itu sedikit menyadari, namun saya membiarkan sisi gelap itu menguasai diri saya. Dan saat tulisan ini ditulis, sebelumnya ayah saya menelepon, menceritakan tentang mobil (yang sedang dalam proses mutasi dari Jakarta ke Bogor), sisi itu muncul. Saya terdiam sebentar, lalu merespon dengan balasan cukup singkat. Setelah telepon ditutup, sisi itu muncul sambil berkata "harusnya gw balesnya lebih tajem", tapi untunglah itu tidak terjadi.
Jadi, poin yang mana? Tengah-tengah sedikit mepet ke poin satu mungkin. Terkadang sih saya sadar juga jika sedang dalam keadaan seperti itu hati saya berkata: "Istigfhar dit, Astagfirullaahal'adziim", namun terkadang juga setelah itu malah lanjut dan sisi gelap itu menguasai lagi.
Itulah dia: "Kamu tahu kalau itu salah, namun kamu tetap melakukannya." Kalau kata teman saya, Ian, itu namanya orang yang Fasik. Harus kita sadari, sisi gelap itu juga termasuk yang dipengaruhi oleh amarah dan hawa nafsu. Dalam kasus saya, saya dipengaruhi oleh hawa nafsu, lalu berkembang menjadi amarah. Jadi ya kembali lagi ke kualitas Iman kita masing-masing. Saya akui Iman saya belumlah 100%, namun dari sikap dimana saya 'sadar' mungkin suatu pertanda baik dan sebuah kemajuan dibandingkan tahun 2010.
Yah, masih banyak yang harus saya perbaiki, malah, sangat banyak. Dan berakhirlah kepada konklusi bahwa kita harus terus memperbaiki Iman diri kita, lebih dekat lagi kepada Pencipta kita, dan cuplikan status dari teman saya, Naely: "Ujung-ujungnya....
Yang ada di benak.... "kita tuh mw apa sih???? tujuan kita apa sih???"
Jawabnya.... "mempersiapkan diri menghadapi kematian sampai kita siap bilang 'wilujeng sumping ya malaikat 'azroil...' "
Mungkin saya akan coba perhalus apa maksud saya. Maksud saya adalah: Hal apa yang bisa membuat 'sisi gelap' dari seseorang keluar?
Sisi gelap? Ya, sisi yang kita tidak pernah melihatnya dalam kehidupan sehari-hari. Sisi yang membuat kita menjadi orang yang 180 derajat berbeda dari sebelumnya. Sisi yang membuat kita bukanlah kita yang biasa dikenal. Apa semua orang memiliki sisi gelap ini? Hampir semua, mungkin. Biasanya, sisi gelap muncul ketika ada sesuatu yang benar-benar, sangat tidak disukainya.
Nah dalam kasus saya, sisi hitam saya muncul ketika menyinggung kesukaan saya: otomotif, mobil, dan kawan-kawannya. Seperti contoh cerita saya dengan sahabat saya '7Friends' yang sekarang 'putus' karena sisi hitam saya keluar ketika mereka memaksa saya ikut ke acara mereka, padahal saya sudah sangat ngebet ke Indonesia International Motor Show 2010. Walaupun pada akhirnya saya ikut ke acara mereka dan tetap bisa ke IIMS, saya tetep saja kesal. Dan juga akhir-akhir ini saat ayah saya mengganti pelek mobil standar ke pelek ring 17 inci yang saya gak suka sama sekali. Hampir sebulan berlalu, saya masih rada kesal kepada ayah saya. Jika beliau membicarakan tentang mobil, saya yah diam aja sambil mangut-mangut, berbeda dibandingkan sebelumnya sangat excited bahkan sampai ngerelain uang tabungan sendiri buat beli beberapa aksesoris untuk mobil.
Ohya sebenarnya apa sih sisi gelap itu? Dalam suatu sumber yang dikutip di kaskus.us: Jika menurut penulis terkenal Amerika, Mark Twain, ia mengatakan, "Everyone is a moon and has a dark side he never shown to anybody" (Setiap orang adalah seperti bulan, mempunyai sisi gelap yang tidak pernah ia tunjukkan kepada orang lain). Masih ingatkah dengan kisah legendaris terkenal yang berjudul Dr Jekyll dan Mr Hyde karya sastrawan Inggris terkemuka, Robert Louis Stevenson? Dalam kisah ini diceritakan soal seorang dokter terkemuka yang mempunyai dua sisi kepribadian. Pada suatu saat, dia adalah seorang dokter yang menolong dan membantu orang, menyelamatkan nyawa orang. Namun, setelah meminum ramuan tertentu, dia pun berubah menjadi seorang malaikat maut pencabut nyawa yang berbahaya. Masih mempunyai hubungan dengan kisah ini, adalah film box office beberapa tahun lalu yakni Star Wars. Dalam salah satu kisahnya yakni serial Return of The Sith, diceritakan soal bagaimana seorang Jedi yang hidupnya terhormat bernama Anakin Skywalkers yang kemudian berubah menjadi pria yang ganas dan berbahaya.
Mungkin kutipan di atas terlalu jauh yah dengan maksud saya. Tapi setidaknya mungkin dapat sedikit gambaran. Konfirmasi bahwa setiap orang pasti memiliki sisi ini, hanya yang jadi perbedaan adalah bagaimana sikap kita terhadap sisi ini?
Menurut analisa saya -yang bukan seorang Psikolog atau ahli dalam kejiwaan, hanya mahasiswa Sains- ada dua macam sikap. Pertama, membiarkan sisi hitam ini terserap, menjadi ciri dari dirinya. Jadi terbalik, sisi inilah yang paling sering muncul, sedangkan sisi terang / sisi baik hanya datang sesekali. Kedua, menyadari kalau sisi gelap itu muncul. Nah disini dibagi lagi, apakah: 1) ia sadar namun membiarkan sisi gelap itu keluar, atau: 2) sadar namun mampu meredamnya?
Mungkin kebanyakan orang berada pada posisi kedua, poin satu. Nah kalau saya? Entahlah, pada kasus '7Friends' tahun 2010 jelas posisi kedua poin satu lah yang saya alami. Namun pada kasus dengan ayah saya, saya saat itu sedikit menyadari, namun saya membiarkan sisi gelap itu menguasai diri saya. Dan saat tulisan ini ditulis, sebelumnya ayah saya menelepon, menceritakan tentang mobil (yang sedang dalam proses mutasi dari Jakarta ke Bogor), sisi itu muncul. Saya terdiam sebentar, lalu merespon dengan balasan cukup singkat. Setelah telepon ditutup, sisi itu muncul sambil berkata "harusnya gw balesnya lebih tajem", tapi untunglah itu tidak terjadi.
Jadi, poin yang mana? Tengah-tengah sedikit mepet ke poin satu mungkin. Terkadang sih saya sadar juga jika sedang dalam keadaan seperti itu hati saya berkata: "Istigfhar dit, Astagfirullaahal'adziim", namun terkadang juga setelah itu malah lanjut dan sisi gelap itu menguasai lagi.
Itulah dia: "Kamu tahu kalau itu salah, namun kamu tetap melakukannya." Kalau kata teman saya, Ian, itu namanya orang yang Fasik. Harus kita sadari, sisi gelap itu juga termasuk yang dipengaruhi oleh amarah dan hawa nafsu. Dalam kasus saya, saya dipengaruhi oleh hawa nafsu, lalu berkembang menjadi amarah. Jadi ya kembali lagi ke kualitas Iman kita masing-masing. Saya akui Iman saya belumlah 100%, namun dari sikap dimana saya 'sadar' mungkin suatu pertanda baik dan sebuah kemajuan dibandingkan tahun 2010.
Yah, masih banyak yang harus saya perbaiki, malah, sangat banyak. Dan berakhirlah kepada konklusi bahwa kita harus terus memperbaiki Iman diri kita, lebih dekat lagi kepada Pencipta kita, dan cuplikan status dari teman saya, Naely: "Ujung-ujungnya....
Yang ada di benak.... "kita tuh mw apa sih???? tujuan kita apa sih???"
Jawabnya.... "mempersiapkan diri menghadapi kematian sampai kita siap bilang 'wilujeng sumping ya malaikat 'azroil...' "
Jumat, 20 Januari 2012
Journal of Energy: Hydrogen
Back to blog! Setelah sekitar 5 bulan berkutat di dunia perkuliahan untuk pertama kalinya, ada waktu juga untuk update blog ini. Kesan tentang kehidupan kuliah? Hmm nanti aja dibahasnya, belum ada kesan yang lumayan untuk ditulis haha.
Menyambung dari tulisan sebelumnya tentang energy, lebih spesifiknya saya membahas tentang hidrogen, ternyata - thanks to mata kuliah Biologi Dasar dimana saya disuruh membuat presentasi tentang energi terbarukan - saya menggali info lebih dalam lagi tentang hidrogen ini. Terutama saya membahasnya dalam slide berjudul "Penggunaan Hidrogen Sebagai Energi Masa Depan Dalam Dunia Otomotif".

Jadi pada dasarnya ternyata penggunaan hidrogen sebagai sumber bahan bakar pada kendaraan dibagi menjadi dua: sebagai pengganti bensin pada mesin pembakaran biasa dan sebagai bahan bakar pada fuel cell. Untuk yang pertama sepertinya tidak terlalu booming karena dianggap kurang efisien, sedangkan fuel-cell lebih populer. Fuel cell sendiri sebenarnya adalah perangkat yang mengubah bahan kimia menjadi listrik melalui reaksi kimia, dimana dalam konteks hydrogen fuel cell, sistem fuel cell yang digunakan adalah Proton Exchange Membrane (PEM) Fuel Cell. Fuel cell terdiri dari sisi anoda dan katoda, hidrogen digiring melewati anoda sedangkan oksigen (dari udara) melewati katoda. Di sisi anoda terdapat material platinum - material yang membuat mobil hydrogen fuel cell mahal - yang membuat hidrogen terpisah menjadi ion hidrogen positif (proton) dan elektron negatif. PEM membuat hanya ion hidrogen positif yang diarahkan menuju katoda, sedangkan elektron negatif harus melalui sirkuit eksternal agar menuju katoda, menyebabkan terjadinya arus listrik. Dari sinilah listrik berasal. Pada akhirnya setelah bertemu di katoda, elektron dan ion hidrogen positif bertemu dengan oksigen sehingga menghasilkan air, yang bisa dibilang merupakan 'emisi' dari proses ini.

Beberapa problem yang saya baca di majalah (AutoExpert Vol. 18 : The Battle for Enviromental-Friendly Motoring) adalah proses ini menghasilkan listrik yang relatif kecil, bahan platinum yang mahal, dan hidrogen itu sendiri yang infrastrukturnya belum bisa dibilang memadai. Sehingga saat ini mobil listrik bertenaga baterai-lah yang cukup populer, karena pengembangannya lebih pesat dan kemampuannya mulai menyaingi mobil berbahan bakar fosil. Ditargetkan oleh pabrikan Volkswagen bahwa hingga tahun 2020 baterai mobil mereka akan memiliki jarak tempuh hingga 800 km. Sedangkan untuk saat ini, mobil listrik yang sudah dijual di pasaran yaitu Nissan Leaf baru memiliki jarak tempuh 160 km. Sedangkan mobil hydrogen fuel cell belum secara 'resmi' dijual di pasaran. Honda FCX Clarity, contoh mobil hidrogen, hanya disewakan di Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa dengan harga US$600 (sekitar Rp5,5 juta) per bulan karena jika dijual maka harganya diperkirakan menyentuh US$120-140 ribu (+- Rp1,2 miliar) untuk sebuah sedan yang ukurannya kurang lebih seperti Toyota Corolla Altis. Nissan Leaf sendiri dihargai US$35,200 (sekitar Rp320 juta) untuk hatchback seukuran Honda Jazz.
Well, saya sendiri tidak mau skeptis terhadap mobil listrik bertenaga baterai (mengenai post sebelumnya, saat itu saya terinfluence dari tayangan TopGear). Tunggu dulu, saya jelaskan sebelumnya. Pada esensinya kedua tipe mobil ini bisa dikatakan mobil listrik, karena keduanya ditenagai oleh listrik. Hanya saja untuk hydrogen fuel cell mereka menggunakan hidrogen sebagai sumber bahan bakar, sedangkan mobil listrik bertenaga baterai ya mendapat sumber dari baterai yang dicharge dari listrik rumah layaknya laptop. Kelemahannya adalah umur baterai yang terbatas, seperti kita temui pada baterai laptop maupun handphone. Saya masih berpikir, hidrogen-lah yang paling tepat karena prosedur pengisian dan prosesnya hampir sama dengan mobil berbahan bakar fosil. Keberadaannya yang masih melimpah namun harus diakui sulit untuk memprosesnya menjadi bahan bakar siap pakai untuk mobil.
Namun, keduanya sama: memberikan solusi dari bahan bakar fosil yang makin terbatas dan akan habis. Saat ini keduanya ibarat disket berukuran 5 1⁄4-inch dengan kapasitas beberapa kilobyte. Sedangkan saat ini kita memiliki flashdisk dengan kapasitas hingga ratusan gigabyte. Di masa depan nanti pun keduanya akan mengalami evolusi seperti ini. Beruntunglah saya, karena Insya Allah saya akan menjadi bagian dari pengembangan energi untuk masa depan untuk dunia otomotif, dunia yang sangat saya minati. Semoga. Aamiin.
Next: Matahari. Tenaga Surya.
Menyambung dari tulisan sebelumnya tentang energy, lebih spesifiknya saya membahas tentang hidrogen, ternyata - thanks to mata kuliah Biologi Dasar dimana saya disuruh membuat presentasi tentang energi terbarukan - saya menggali info lebih dalam lagi tentang hidrogen ini. Terutama saya membahasnya dalam slide berjudul "Penggunaan Hidrogen Sebagai Energi Masa Depan Dalam Dunia Otomotif".
Jadi pada dasarnya ternyata penggunaan hidrogen sebagai sumber bahan bakar pada kendaraan dibagi menjadi dua: sebagai pengganti bensin pada mesin pembakaran biasa dan sebagai bahan bakar pada fuel cell. Untuk yang pertama sepertinya tidak terlalu booming karena dianggap kurang efisien, sedangkan fuel-cell lebih populer. Fuel cell sendiri sebenarnya adalah perangkat yang mengubah bahan kimia menjadi listrik melalui reaksi kimia, dimana dalam konteks hydrogen fuel cell, sistem fuel cell yang digunakan adalah Proton Exchange Membrane (PEM) Fuel Cell. Fuel cell terdiri dari sisi anoda dan katoda, hidrogen digiring melewati anoda sedangkan oksigen (dari udara) melewati katoda. Di sisi anoda terdapat material platinum - material yang membuat mobil hydrogen fuel cell mahal - yang membuat hidrogen terpisah menjadi ion hidrogen positif (proton) dan elektron negatif. PEM membuat hanya ion hidrogen positif yang diarahkan menuju katoda, sedangkan elektron negatif harus melalui sirkuit eksternal agar menuju katoda, menyebabkan terjadinya arus listrik. Dari sinilah listrik berasal. Pada akhirnya setelah bertemu di katoda, elektron dan ion hidrogen positif bertemu dengan oksigen sehingga menghasilkan air, yang bisa dibilang merupakan 'emisi' dari proses ini.

Beberapa problem yang saya baca di majalah (AutoExpert Vol. 18 : The Battle for Enviromental-Friendly Motoring) adalah proses ini menghasilkan listrik yang relatif kecil, bahan platinum yang mahal, dan hidrogen itu sendiri yang infrastrukturnya belum bisa dibilang memadai. Sehingga saat ini mobil listrik bertenaga baterai-lah yang cukup populer, karena pengembangannya lebih pesat dan kemampuannya mulai menyaingi mobil berbahan bakar fosil. Ditargetkan oleh pabrikan Volkswagen bahwa hingga tahun 2020 baterai mobil mereka akan memiliki jarak tempuh hingga 800 km. Sedangkan untuk saat ini, mobil listrik yang sudah dijual di pasaran yaitu Nissan Leaf baru memiliki jarak tempuh 160 km. Sedangkan mobil hydrogen fuel cell belum secara 'resmi' dijual di pasaran. Honda FCX Clarity, contoh mobil hidrogen, hanya disewakan di Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa dengan harga US$600 (sekitar Rp5,5 juta) per bulan karena jika dijual maka harganya diperkirakan menyentuh US$120-140 ribu (+- Rp1,2 miliar) untuk sebuah sedan yang ukurannya kurang lebih seperti Toyota Corolla Altis. Nissan Leaf sendiri dihargai US$35,200 (sekitar Rp320 juta) untuk hatchback seukuran Honda Jazz.
Well, saya sendiri tidak mau skeptis terhadap mobil listrik bertenaga baterai (mengenai post sebelumnya, saat itu saya terinfluence dari tayangan TopGear). Tunggu dulu, saya jelaskan sebelumnya. Pada esensinya kedua tipe mobil ini bisa dikatakan mobil listrik, karena keduanya ditenagai oleh listrik. Hanya saja untuk hydrogen fuel cell mereka menggunakan hidrogen sebagai sumber bahan bakar, sedangkan mobil listrik bertenaga baterai ya mendapat sumber dari baterai yang dicharge dari listrik rumah layaknya laptop. Kelemahannya adalah umur baterai yang terbatas, seperti kita temui pada baterai laptop maupun handphone. Saya masih berpikir, hidrogen-lah yang paling tepat karena prosedur pengisian dan prosesnya hampir sama dengan mobil berbahan bakar fosil. Keberadaannya yang masih melimpah namun harus diakui sulit untuk memprosesnya menjadi bahan bakar siap pakai untuk mobil.
Namun, keduanya sama: memberikan solusi dari bahan bakar fosil yang makin terbatas dan akan habis. Saat ini keduanya ibarat disket berukuran 5 1⁄4-inch dengan kapasitas beberapa kilobyte. Sedangkan saat ini kita memiliki flashdisk dengan kapasitas hingga ratusan gigabyte. Di masa depan nanti pun keduanya akan mengalami evolusi seperti ini. Beruntunglah saya, karena Insya Allah saya akan menjadi bagian dari pengembangan energi untuk masa depan untuk dunia otomotif, dunia yang sangat saya minati. Semoga. Aamiin.
Next: Matahari. Tenaga Surya.
Sabtu, 03 September 2011
Energy xD
Entah ada angin apa saya jadi bersemangat gini untuk ngeblog haha mungkin karena, em, 'hal pribadi yang tak perlu saya tulis disini' seperti yang ada di post sebelumnya, but never mind, let's do it!
Akhir-akhir ini, udah lama juga sih sebenernya, saya kepancing sama salah satu yang ada di timeline Plurk saya, yang setiap hari terkadang update tentang berbagai topik tentang sains. Dan saya jadi terpancing, kok saya engga? Karena merasa kalah, atau apalah, haha, saya juga mencoba mencari topik tentang sains. Tapi tidak jauh-jauh dengan passion dan minat saya...
Energi. Lebih spesifik, energi dalam bidang otomotif. Tantangan untuk menciptakan, alih-alih menemukan, energi terbarukan untuk industri otomotif yang bersih, efisien, ramah lingkungan, bisa diandalkan, tidak rumit, perawatan mudah dan murah.
Walaupun saya masih sangat awam dan baru, dan mungkin masih dalam tahap tertarik, saya baru mengenal kulit luarnya saja. Tapi memang ada beberapa yang secara 'kasar' saya mengerti. Saat ini ilmuwan dalam industri otomotif telah menemukan banyak macam, tapi dalam cakupan pengetahuan saya yang masih awam, saya baru membaginya dalam tiga macam : hybrid, electric car, dan hydrogen fuel-cell
Dari ketiga macam diatas, saya paling tertarik, sejauh ini, dengan hydrogen fuel-cell. Karena kalau hybrid, basically masih menggunakan bahan bakar fosil yang digabungkan dengan mesin listrik, dan tujuannya masih 'meminimalisir penggunaan bahan bakar fosil'. Kalau electric car, masih ada beberapa isu tentang jarak tempuh atau range yang terbatas, proses charging yang masih memakan waktu yang lama, dan sumber listriknya itu sendiri - yang biasa kita temukan di rumah, namanya 'colokan' - kan sumbernya dari bahan bakar fosil juga.
Namun, hydrogen fuel-cell, salah satu contohnya ada di Honda FCX Clarity, menggunakan bahan bakar hidrogen cair bertekanan yang dalam pengisiannya praktis, seperti kita mengisi bensin di pom bensin biasa, dan memberikan jarak tempuh lebih baik, dan tentu saja menggunakan bahan bakar baru yang ketersediannya melimpah di muka bumi, dan hanya beremisikan, air murni!
Ini sekilas review salah satu mobil hydrogen fuel-cell, Honda FCX Clarity, oleh Top Gear.
Memang, yang saya tuliskan semua ini hanyalah "kasar" dan masih kulit luar semata, karena saya belum mengkajinya lebih dalam lagi. Saya sempat melihat ada komentar negatif tentang mobil berbahan bakar hydrogen fuel-cell, dan ternyata banyak! Tapi saya masih belum tahu kenapa. Yang pasti ini yang akan menjadi project sains saya dan akan saya pelajari. Dan tidak menutup kemungkinan energi alternatif lain lho. Bisa saja nanti kita akan menemukan mobil berbahan-bakar kotoran kita sendiri. Haha tapi bisa saja kan, selama beberapa belas tahun kedepan teknologi akan semakin maju, dan di masa depan nanti banyak ilmuwan yang akan meneliti dalam bidang pencarian energi terbarukan ini, dan saya harap, salah satu dari mereka, adalah saya...
Akhir-akhir ini, udah lama juga sih sebenernya, saya kepancing sama salah satu yang ada di timeline Plurk saya, yang setiap hari terkadang update tentang berbagai topik tentang sains. Dan saya jadi terpancing, kok saya engga? Karena merasa kalah, atau apalah, haha, saya juga mencoba mencari topik tentang sains. Tapi tidak jauh-jauh dengan passion dan minat saya...
Energi. Lebih spesifik, energi dalam bidang otomotif. Tantangan untuk menciptakan, alih-alih menemukan, energi terbarukan untuk industri otomotif yang bersih, efisien, ramah lingkungan, bisa diandalkan, tidak rumit, perawatan mudah dan murah.
Walaupun saya masih sangat awam dan baru, dan mungkin masih dalam tahap tertarik, saya baru mengenal kulit luarnya saja. Tapi memang ada beberapa yang secara 'kasar' saya mengerti. Saat ini ilmuwan dalam industri otomotif telah menemukan banyak macam, tapi dalam cakupan pengetahuan saya yang masih awam, saya baru membaginya dalam tiga macam : hybrid, electric car, dan hydrogen fuel-cell
Dari ketiga macam diatas, saya paling tertarik, sejauh ini, dengan hydrogen fuel-cell. Karena kalau hybrid, basically masih menggunakan bahan bakar fosil yang digabungkan dengan mesin listrik, dan tujuannya masih 'meminimalisir penggunaan bahan bakar fosil'. Kalau electric car, masih ada beberapa isu tentang jarak tempuh atau range yang terbatas, proses charging yang masih memakan waktu yang lama, dan sumber listriknya itu sendiri - yang biasa kita temukan di rumah, namanya 'colokan' - kan sumbernya dari bahan bakar fosil juga.
Namun, hydrogen fuel-cell, salah satu contohnya ada di Honda FCX Clarity, menggunakan bahan bakar hidrogen cair bertekanan yang dalam pengisiannya praktis, seperti kita mengisi bensin di pom bensin biasa, dan memberikan jarak tempuh lebih baik, dan tentu saja menggunakan bahan bakar baru yang ketersediannya melimpah di muka bumi, dan hanya beremisikan, air murni!
Ini sekilas review salah satu mobil hydrogen fuel-cell, Honda FCX Clarity, oleh Top Gear.
Memang, yang saya tuliskan semua ini hanyalah "kasar" dan masih kulit luar semata, karena saya belum mengkajinya lebih dalam lagi. Saya sempat melihat ada komentar negatif tentang mobil berbahan bakar hydrogen fuel-cell, dan ternyata banyak! Tapi saya masih belum tahu kenapa. Yang pasti ini yang akan menjadi project sains saya dan akan saya pelajari. Dan tidak menutup kemungkinan energi alternatif lain lho. Bisa saja nanti kita akan menemukan mobil berbahan-bakar kotoran kita sendiri. Haha tapi bisa saja kan, selama beberapa belas tahun kedepan teknologi akan semakin maju, dan di masa depan nanti banyak ilmuwan yang akan meneliti dalam bidang pencarian energi terbarukan ini, dan saya harap, salah satu dari mereka, adalah saya...
Bersyukur..
Alhamdulillah Wasyukurillah, bersyukur pada-Mu Yaa Allah
bukan nyanyi loh --'
Cuman memang tagline hari ini dan beberapa hari kebelakang maupun kedepan (jadi intinya kapan?) adalah "Bersyukur".
Jelas saja tidak lepas dari berita hari ini (3 September) tentang kecelakaan yang menimpa Syaiful Jamil dan keluarga di Tol Cipularang, effectively merupakan jalan yang bakal saya sering lewati selama empat tahun kedepan, dimana istri dari kang Syaiful meninggal dunia. Saya turut berduka cita, kang.
Dan juga tidak lepas dari fakta bahwa, dari Newsticker Metro TV, selama tanggal 23 Agustus hingga 2 September, tercatat 549 orang meninggal dunia karena kecelakaan dalam arus mudik Lebaran 2011. Penyebabnya bervariasi, tapi saya tidak akan membahas ini sekarang. Yang pasti untuk para keluarga korban maupun yang mengalami kecelakaan, saya menyampaikan duka yang mendalam dan semoga keadaan bisa kembali seperti semula.
Kenapa saya menulis atau menukilkan hal ini? Well, kembali ke judul, bahwa saya bersyukur, benar-benar bersyukur, bahwa perjalanan mudik keluarga kami aman dan tidak ada kejadian yang tidak diinginkan. Bersyukur juga bahwa tahun ini keluarga kami - yang ada di rumah - masih komplit dan utuh. Sebuah kenikmatan yang tidak akan ada tandingannya.
Sebenarnya juga lebih ke karena saya, selama dua tahun kebelakang, adalah driver untuk mudik. Well, memang gak jauh, hari pertama ke Jakarta, sekitar daerah Menteng Atas, Jaksel, lalu ke daerah Senayan, Jakpus. Hari kedua ke Balaraja, sekitar Tangerang lah. Lalu selesai. Jelas, tanggung jawab saya besar, karena membawa seluruh anggota keluarga dan semuanya tergantung pada kedua tangan dan kaki saya, juga kondisi mobil, dan juga Allah.
Terpikir, bahwa saya terkadang mengendarai mobil terlalu cepat, dan emosi karena mobil lain ada yang rese dan ngeselin. Kemarin saya masih bisa menempuh 140km/h, di mobil berusia 18 tahun - yang kondisinya jelas ga seperti baru, jadi ada beberapa hal yang meragukan -, muatan penuh, ban berusia 5 tahun (waktunya diganti), dan ada salah satu ban, belakang kanan, yang sempat kempes dan ditambal biasa, dan saya baca bahwa tambal biasa seperti itu (namanya tambal string tubeless. Kalau gatau, itu tuh sistem tambal kebanyakan tukang tambal ban di mana-mana) berbahaya karena sifatnya yang sementara dan merusak ban, dan ada kemungkinan mudah pecah. Jadi sangat disarankan untuk menggantinya dengan tambal permanen di bengkel besar. Saya bersyukur, bahwa selama mengendarai mobil, setelah mengantungi pengalaman sekitar 2.000 km, saya belum mengalami kejadian yang tidak diinginkan. Walaupun tahun ini saya sepertinya 'sukses' membuat engine mounting mesin bagian depan pecah, padahal baru diganti bulan Mei kemarin. Mungkin karena saya sempat geber sekitar 120km/h di jalan tol yang banyak sambungan jalannya, jadi bumpy gitu.
Saya jadi terpikir untuk introspeksi diri. Mungkin lain kali saya tidak akan memacu mobil secepat itu lagi. It's okay lah kalau saya sendirian, tapi kalau membawa nyawa orang lain, takut. Teringat lagi kecelakaan Sahur On The Road SMAN 28 Jakarta, dimana ada orang yang membawa temannya lalu terjadi kecelakaan hingga menewaskan dua orang. Mungkin 100km/h konstan, di jalur kedua dari kanan, akan lebih baik dan aman.
Yang pasti, banyak introspeksi serta syukur yang saya haturkan. Saya juga akan coba atur emosi saya, walaupun kadang papa saya sering ngomporin buat nyusul dari sebelah kiri sih hehe, tapi saya akan coba. Dan yang paling penting, saya bersyukur, bahwa hingga detik ini saya menulis post ini, keluarga kami masih lengkap dan komplit. Belum kebayang rasanya jika harus berlebaran dengan kekurangan anggota keluarga...
bukan nyanyi loh --'
Cuman memang tagline hari ini dan beberapa hari kebelakang maupun kedepan (jadi intinya kapan?) adalah "Bersyukur".
Jelas saja tidak lepas dari berita hari ini (3 September) tentang kecelakaan yang menimpa Syaiful Jamil dan keluarga di Tol Cipularang, effectively merupakan jalan yang bakal saya sering lewati selama empat tahun kedepan, dimana istri dari kang Syaiful meninggal dunia. Saya turut berduka cita, kang.
Dan juga tidak lepas dari fakta bahwa, dari Newsticker Metro TV, selama tanggal 23 Agustus hingga 2 September, tercatat 549 orang meninggal dunia karena kecelakaan dalam arus mudik Lebaran 2011. Penyebabnya bervariasi, tapi saya tidak akan membahas ini sekarang. Yang pasti untuk para keluarga korban maupun yang mengalami kecelakaan, saya menyampaikan duka yang mendalam dan semoga keadaan bisa kembali seperti semula.
Kenapa saya menulis atau menukilkan hal ini? Well, kembali ke judul, bahwa saya bersyukur, benar-benar bersyukur, bahwa perjalanan mudik keluarga kami aman dan tidak ada kejadian yang tidak diinginkan. Bersyukur juga bahwa tahun ini keluarga kami - yang ada di rumah - masih komplit dan utuh. Sebuah kenikmatan yang tidak akan ada tandingannya.
Sebenarnya juga lebih ke karena saya, selama dua tahun kebelakang, adalah driver untuk mudik. Well, memang gak jauh, hari pertama ke Jakarta, sekitar daerah Menteng Atas, Jaksel, lalu ke daerah Senayan, Jakpus. Hari kedua ke Balaraja, sekitar Tangerang lah. Lalu selesai. Jelas, tanggung jawab saya besar, karena membawa seluruh anggota keluarga dan semuanya tergantung pada kedua tangan dan kaki saya, juga kondisi mobil, dan juga Allah.
Terpikir, bahwa saya terkadang mengendarai mobil terlalu cepat, dan emosi karena mobil lain ada yang rese dan ngeselin. Kemarin saya masih bisa menempuh 140km/h, di mobil berusia 18 tahun - yang kondisinya jelas ga seperti baru, jadi ada beberapa hal yang meragukan -, muatan penuh, ban berusia 5 tahun (waktunya diganti), dan ada salah satu ban, belakang kanan, yang sempat kempes dan ditambal biasa, dan saya baca bahwa tambal biasa seperti itu (namanya tambal string tubeless. Kalau gatau, itu tuh sistem tambal kebanyakan tukang tambal ban di mana-mana) berbahaya karena sifatnya yang sementara dan merusak ban, dan ada kemungkinan mudah pecah. Jadi sangat disarankan untuk menggantinya dengan tambal permanen di bengkel besar. Saya bersyukur, bahwa selama mengendarai mobil, setelah mengantungi pengalaman sekitar 2.000 km, saya belum mengalami kejadian yang tidak diinginkan. Walaupun tahun ini saya sepertinya 'sukses' membuat engine mounting mesin bagian depan pecah, padahal baru diganti bulan Mei kemarin. Mungkin karena saya sempat geber sekitar 120km/h di jalan tol yang banyak sambungan jalannya, jadi bumpy gitu.
Saya jadi terpikir untuk introspeksi diri. Mungkin lain kali saya tidak akan memacu mobil secepat itu lagi. It's okay lah kalau saya sendirian, tapi kalau membawa nyawa orang lain, takut. Teringat lagi kecelakaan Sahur On The Road SMAN 28 Jakarta, dimana ada orang yang membawa temannya lalu terjadi kecelakaan hingga menewaskan dua orang. Mungkin 100km/h konstan, di jalur kedua dari kanan, akan lebih baik dan aman.
Yang pasti, banyak introspeksi serta syukur yang saya haturkan. Saya juga akan coba atur emosi saya, walaupun kadang papa saya sering ngomporin buat nyusul dari sebelah kiri sih hehe, tapi saya akan coba. Dan yang paling penting, saya bersyukur, bahwa hingga detik ini saya menulis post ini, keluarga kami masih lengkap dan komplit. Belum kebayang rasanya jika harus berlebaran dengan kekurangan anggota keluarga...
Langganan:
Postingan (Atom)