Jumat, 20 Januari 2012

Journal of Energy: Hydrogen

Back to blog! Setelah sekitar 5 bulan berkutat di dunia perkuliahan untuk pertama kalinya, ada waktu juga untuk update blog ini. Kesan tentang kehidupan kuliah? Hmm nanti aja dibahasnya, belum ada kesan yang lumayan untuk ditulis haha.

Menyambung dari tulisan sebelumnya tentang energy, lebih spesifiknya saya membahas tentang hidrogen, ternyata - thanks to mata kuliah Biologi Dasar dimana saya disuruh membuat presentasi tentang energi terbarukan - saya menggali info lebih dalam lagi tentang hidrogen ini. Terutama saya membahasnya dalam slide berjudul "Penggunaan Hidrogen Sebagai Energi Masa Depan Dalam Dunia Otomotif".



Jadi pada dasarnya ternyata penggunaan hidrogen sebagai sumber bahan bakar pada kendaraan dibagi menjadi dua: sebagai pengganti bensin pada mesin pembakaran biasa dan sebagai bahan bakar pada fuel cell. Untuk yang pertama sepertinya tidak terlalu booming karena dianggap kurang efisien, sedangkan fuel-cell lebih populer. Fuel cell sendiri sebenarnya adalah perangkat yang mengubah bahan kimia menjadi listrik melalui reaksi kimia, dimana dalam konteks hydrogen fuel cell, sistem fuel cell yang digunakan adalah Proton Exchange Membrane (PEM) Fuel Cell. Fuel cell terdiri dari sisi anoda dan katoda, hidrogen digiring melewati anoda sedangkan oksigen (dari udara) melewati katoda. Di sisi anoda terdapat material platinum - material yang membuat mobil hydrogen fuel cell mahal - yang membuat hidrogen terpisah menjadi ion hidrogen positif (proton) dan elektron negatif. PEM membuat hanya ion hidrogen positif yang diarahkan menuju katoda, sedangkan elektron negatif harus melalui sirkuit eksternal agar menuju katoda, menyebabkan terjadinya arus listrik. Dari sinilah listrik berasal. Pada akhirnya setelah bertemu di katoda, elektron dan ion hidrogen positif bertemu dengan oksigen sehingga menghasilkan air, yang bisa dibilang merupakan 'emisi' dari proses ini.



Beberapa problem yang saya baca di majalah (AutoExpert Vol. 18 : The Battle for Enviromental-Friendly Motoring) adalah proses ini menghasilkan listrik yang relatif kecil, bahan platinum yang mahal, dan hidrogen itu sendiri yang infrastrukturnya belum bisa dibilang memadai. Sehingga saat ini mobil listrik bertenaga baterai-lah yang cukup populer, karena pengembangannya lebih pesat dan kemampuannya mulai menyaingi mobil berbahan bakar fosil. Ditargetkan oleh pabrikan Volkswagen bahwa hingga tahun 2020 baterai mobil mereka akan memiliki jarak tempuh hingga 800 km. Sedangkan untuk saat ini, mobil listrik yang sudah dijual di pasaran yaitu Nissan Leaf baru memiliki jarak tempuh 160 km. Sedangkan mobil hydrogen fuel cell belum secara 'resmi' dijual di pasaran. Honda FCX Clarity, contoh mobil hidrogen, hanya disewakan di Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa dengan harga US$600 (sekitar Rp5,5 juta) per bulan karena jika dijual maka harganya diperkirakan menyentuh US$120-140 ribu (+- Rp1,2 miliar) untuk sebuah sedan yang ukurannya kurang lebih seperti Toyota Corolla Altis. Nissan Leaf sendiri dihargai US$35,200 (sekitar Rp320 juta) untuk hatchback seukuran Honda Jazz.

Well, saya sendiri tidak mau skeptis terhadap mobil listrik bertenaga baterai (mengenai post sebelumnya, saat itu saya terinfluence dari tayangan TopGear). Tunggu dulu, saya jelaskan sebelumnya. Pada esensinya kedua tipe mobil ini bisa dikatakan mobil listrik, karena keduanya ditenagai oleh listrik. Hanya saja untuk hydrogen fuel cell mereka menggunakan hidrogen sebagai sumber bahan bakar, sedangkan mobil listrik bertenaga baterai ya mendapat sumber dari baterai yang dicharge dari listrik rumah layaknya laptop. Kelemahannya adalah umur baterai yang terbatas, seperti kita temui pada baterai laptop maupun handphone. Saya masih berpikir, hidrogen-lah yang paling tepat karena prosedur pengisian dan prosesnya hampir sama dengan mobil berbahan bakar fosil. Keberadaannya yang masih melimpah namun harus diakui sulit untuk memprosesnya menjadi bahan bakar siap pakai untuk mobil.

Namun, keduanya sama: memberikan solusi dari bahan bakar fosil yang makin terbatas dan akan habis. Saat ini keduanya ibarat disket berukuran 5 1⁄4-inch dengan kapasitas beberapa kilobyte. Sedangkan saat ini kita memiliki flashdisk dengan kapasitas hingga ratusan gigabyte. Di masa depan nanti pun keduanya akan mengalami evolusi seperti ini. Beruntunglah saya, karena Insya Allah saya akan menjadi bagian dari pengembangan energi untuk masa depan untuk dunia otomotif, dunia yang sangat saya minati. Semoga. Aamiin.


Next: Matahari. Tenaga Surya.

Sabtu, 03 September 2011

Energy xD

Entah ada angin apa saya jadi bersemangat gini untuk ngeblog haha mungkin karena, em, 'hal pribadi yang tak perlu saya tulis disini' seperti yang ada di post sebelumnya, but never mind, let's do it!

Akhir-akhir ini, udah lama juga sih sebenernya, saya kepancing sama salah satu yang ada di timeline Plurk saya, yang setiap hari terkadang update tentang berbagai topik tentang sains. Dan saya jadi terpancing, kok saya engga? Karena merasa kalah, atau apalah, haha, saya juga mencoba mencari topik tentang sains. Tapi tidak jauh-jauh dengan passion dan minat saya...

Energi. Lebih spesifik, energi dalam bidang otomotif. Tantangan untuk menciptakan, alih-alih menemukan, energi terbarukan untuk industri otomotif yang bersih, efisien, ramah lingkungan, bisa diandalkan, tidak rumit, perawatan mudah dan murah.

Walaupun saya masih sangat awam dan baru, dan mungkin masih dalam tahap tertarik, saya baru mengenal kulit luarnya saja. Tapi memang ada beberapa yang secara 'kasar' saya mengerti. Saat ini ilmuwan dalam industri otomotif telah menemukan banyak macam, tapi dalam cakupan pengetahuan saya yang masih awam, saya baru membaginya dalam tiga macam : hybrid, electric car, dan hydrogen fuel-cell

Dari ketiga macam diatas, saya paling tertarik, sejauh ini, dengan hydrogen fuel-cell. Karena kalau hybrid, basically masih menggunakan bahan bakar fosil yang digabungkan dengan mesin listrik, dan tujuannya masih 'meminimalisir penggunaan bahan bakar fosil'. Kalau electric car, masih ada beberapa isu tentang jarak tempuh atau range yang terbatas, proses charging yang masih memakan waktu yang lama, dan sumber listriknya itu sendiri - yang biasa kita temukan di rumah, namanya 'colokan' - kan sumbernya dari bahan bakar fosil juga.

Namun, hydrogen fuel-cell, salah satu contohnya ada di Honda FCX Clarity, menggunakan bahan bakar hidrogen cair bertekanan yang dalam pengisiannya praktis, seperti kita mengisi bensin di pom bensin biasa, dan memberikan jarak tempuh lebih baik, dan tentu saja menggunakan bahan bakar baru yang ketersediannya melimpah di muka bumi, dan hanya beremisikan, air murni!

Ini sekilas review salah satu mobil hydrogen fuel-cell, Honda FCX Clarity, oleh Top Gear.



Memang, yang saya tuliskan semua ini hanyalah "kasar" dan masih kulit luar semata, karena saya belum mengkajinya lebih dalam lagi. Saya sempat melihat ada komentar negatif tentang mobil berbahan bakar hydrogen fuel-cell, dan ternyata banyak! Tapi saya masih belum tahu kenapa. Yang pasti ini yang akan menjadi project sains saya dan akan saya pelajari. Dan tidak menutup kemungkinan energi alternatif lain lho. Bisa saja nanti kita akan menemukan mobil berbahan-bakar kotoran kita sendiri. Haha tapi bisa saja kan, selama beberapa belas tahun kedepan teknologi akan semakin maju, dan di masa depan nanti banyak ilmuwan yang akan meneliti dalam bidang pencarian energi terbarukan ini, dan saya harap, salah satu dari mereka, adalah saya...

Bersyukur..

Alhamdulillah Wasyukurillah, bersyukur pada-Mu Yaa Allah
bukan nyanyi loh --'

Cuman memang tagline hari ini dan beberapa hari kebelakang maupun kedepan (jadi intinya kapan?) adalah "Bersyukur".

Jelas saja tidak lepas dari berita hari ini (3 September) tentang kecelakaan yang menimpa Syaiful Jamil dan keluarga di Tol Cipularang, effectively merupakan jalan yang bakal saya sering lewati selama empat tahun kedepan, dimana istri dari kang Syaiful meninggal dunia. Saya turut berduka cita, kang.

Dan juga tidak lepas dari fakta bahwa, dari Newsticker Metro TV, selama tanggal 23 Agustus hingga 2 September, tercatat 549 orang meninggal dunia karena kecelakaan dalam arus mudik Lebaran 2011. Penyebabnya bervariasi, tapi saya tidak akan membahas ini sekarang. Yang pasti untuk para keluarga korban maupun yang mengalami kecelakaan, saya menyampaikan duka yang mendalam dan semoga keadaan bisa kembali seperti semula.

Kenapa saya menulis atau menukilkan hal ini? Well, kembali ke judul, bahwa saya bersyukur, benar-benar bersyukur, bahwa perjalanan mudik keluarga kami aman dan tidak ada kejadian yang tidak diinginkan. Bersyukur juga bahwa tahun ini keluarga kami - yang ada di rumah - masih komplit dan utuh. Sebuah kenikmatan yang tidak akan ada tandingannya.

Sebenarnya juga lebih ke karena saya, selama dua tahun kebelakang, adalah driver untuk mudik. Well, memang gak jauh, hari pertama ke Jakarta, sekitar daerah Menteng Atas, Jaksel, lalu ke daerah Senayan, Jakpus. Hari kedua ke Balaraja, sekitar Tangerang lah. Lalu selesai. Jelas, tanggung jawab saya besar, karena membawa seluruh anggota keluarga dan semuanya tergantung pada kedua tangan dan kaki saya, juga kondisi mobil, dan juga Allah.

Terpikir, bahwa saya terkadang mengendarai mobil terlalu cepat, dan emosi karena mobil lain ada yang rese dan ngeselin. Kemarin saya masih bisa menempuh 140km/h, di mobil berusia 18 tahun - yang kondisinya jelas ga seperti baru, jadi ada beberapa hal yang meragukan -, muatan penuh, ban berusia 5 tahun (waktunya diganti), dan ada salah satu ban, belakang kanan, yang sempat kempes dan ditambal biasa, dan saya baca bahwa tambal biasa seperti itu (namanya tambal string tubeless. Kalau gatau, itu tuh sistem tambal kebanyakan tukang tambal ban di mana-mana) berbahaya karena sifatnya yang sementara dan merusak ban, dan ada kemungkinan mudah pecah. Jadi sangat disarankan untuk menggantinya dengan tambal permanen di bengkel besar. Saya bersyukur, bahwa selama mengendarai mobil, setelah mengantungi pengalaman sekitar 2.000 km, saya belum mengalami kejadian yang tidak diinginkan. Walaupun tahun ini saya sepertinya 'sukses' membuat engine mounting mesin bagian depan pecah, padahal baru diganti bulan Mei kemarin. Mungkin karena saya sempat geber sekitar 120km/h di jalan tol yang banyak sambungan jalannya, jadi bumpy gitu.

Saya jadi terpikir untuk introspeksi diri. Mungkin lain kali saya tidak akan memacu mobil secepat itu lagi. It's okay lah kalau saya sendirian, tapi kalau membawa nyawa orang lain, takut. Teringat lagi kecelakaan Sahur On The Road SMAN 28 Jakarta, dimana ada orang yang membawa temannya lalu terjadi kecelakaan hingga menewaskan dua orang. Mungkin 100km/h konstan, di jalur kedua dari kanan, akan lebih baik dan aman.

Yang pasti, banyak introspeksi serta syukur yang saya haturkan. Saya juga akan coba atur emosi saya, walaupun kadang papa saya sering ngomporin buat nyusul dari sebelah kiri sih hehe, tapi saya akan coba. Dan yang paling penting, saya bersyukur, bahwa hingga detik ini saya menulis post ini, keluarga kami masih lengkap dan komplit. Belum kebayang rasanya jika harus berlebaran dengan kekurangan anggota keluarga...

Jumat, 02 September 2011

Inti dari Bulan Ramadhan

Ramadhan 2011, alias bulan Ramadhan yang baru saja kita lalui, mungkin buat saya merupakan bulan Ramadhan pertama saya yang "layak". Maksudnya layak disini adalah ya, ada sesuatu yang pribadi yang tidak perlu saya tulis disini mengenai Ramadhan tahun-tahun sebelumnya, tapi yang saya rasakan - dan memang benar - adalah baru tahun ini gitu yang "bener", seolah-olah Ramadhan tahun-tahun sebelumnya (dimulai semenjak saya dikategorikan baligh dan wajib berpuasa, umur berapa ya kira-kira? ya pokoknya dimulai dari situ deh) itu saya ngerasa puasanya "ga bener", jadi saya menyia-nyiakan kesempatan gitu. Saya ngerasanya jadi seperti bukan di bulan Ramadhan, dan baru tahun ini "cukup" merasakannya. Seolah-olah bulan Ramadhan di tahun-tahun sebelumnya itu sia-sia, dan baru tahun ini saya ngerasain yang "layak". Sakali pan, tapi ya seperti itulah. Sulit menulisnya dengan satu kalimat langsung yang tidak bertele-tele.

Banyak faktor, yang bisa menjadi penyebab kenapa saya bisa seperti yang saya sebutkan diatas. Partly disebabkan oleh - saya frontal saja - yang saya rasakan adalah, semenjak Desember 2010, saya mengalami banyak perubahan. Mungkin memang panjang jalan yang harus saya tempuh sampai akhirnya saya bisa berada sampai dalam titik dimana - menurut saya - saya mengalami perubahan yang cukup signifikan. Dan saya memang percaya bahwa segala sesuatunya itu sudah ter-schedule, apapun itu, oleh Allah. Baik kejadian baik maupun buruk, semuanya sudah disusun sampai pada saat dimana kita sadar. Saya bukannya mau sok "udah sadar" atau apalah, masih panjang perjalanan yang harus ditempuh sampai menuju, "titik yang saya belum capai". Susah deskripsiinnya, tapi kalau kalian para pembaca coba memahami pasti paham deh, walaupun sulit diungkapkan melalui kata-kata. Ditambah dengan faktor "musiman", faktor pembuat galau dan taubat nomor satu bagi para pelajar SMA tingkat akhir, yaitu *jeng-jeng* UN dan SNMPTN, disertai berbagai ragam tes masuk Universitas lainnya, walaupun buat saya yang paling berpengaruh adalah, tetap, Desember 2010 itu.

Kembali ke Ramadhan tahun ini. Saat saya "sok sadar" dan "belagu" se-belagu tulisan sebelumnya, saya tidak merasakan sesuatu saat meninggalkan Ramadhan tahun ini. Ada kan, kisahnya oleh siapa gitu yang menangis saat ditinggalkan bulan Ramadhan. Saya berusaha lebay-lebayin supaya ngerasain sedihnya ditinggal bulan Ramadhan, tapi itu bukan ide yang bagus. Namun akhirnya, saya menyadari sesuatu.

Kembali lagi, tentang hal pribadi yang tak perlu saya tulis disini. Saya bisa merasakan, perbedaan jauh, antara bulan dimana setan-setan diikat dan dibelenggu, dengan bulan dimana setan bebas berkeliaran. Dan tanpa diduga, Ramadhan kali ini berbekas di diri saya, walaupun sekarang masih dua hari selepas Ramadhan, tapi kerasa gitu, ada bekasnya, sesuatu yang harus saya pertahankan, ga boleh turun. Dan memang target saya sebelas bulan kedepan adalah : memperbaiki 'hal pribadi yang tak perlu saya tulis disini', meningkatkan diri agar lebih berkualitas lagi sampai, Insya Allah, jika dalam tinta yang telah kering yang telah ditulis saat penciptaan diri saya dalam kandungan (bener ga sih begini kata-katanya?), saya dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan.

Perjalanan saya memang masih jauh, menuju, em, "titik yang saya belum capai". Titik yang, saya meyakini, jika sudah saya capai, maka kesananya akan lancar, Insya Allah. Termasuk dipertemukan oleh #SKIP SAJA BAGIAN INI#, cita-cita saya, dan kesuksesan Dunia dan Akhirat, Insya Allah.


Perjalanan saya masih panjang. Perjuangan saya masih harus ditingkatkan. Kerja-keras saya masih harus diperbaiki. Dan, kesadaran saya tentang jalan yang telah disusun ini harus saya pertajam, agar saya bisa menyadari dan cepat bertindak.

Rabu, 31 Agustus 2011

UPDATE

well, setelah ga lama update, jadi saya pikir saya pengen update aja deh. so, what's the update?

education : Universitas Padjadjaran, Fisika.

udah sih itu aja. daah :D #garing

Rabu, 15 Juni 2011

Srikandi In Motorsports

PENDAHULUAN :
Berawal saat saya menonton event akbar tahunan balapan ketahanan 24 jam, 24 Heures Du Mans (eng : 24 Hours of Le Mans) di Eurosport, saya melihat ada sosok yang berbeda di deretan kru dari tim yang mengikuti balapan itu. Sosok 'Srikandi' tepatnya, dalam bahasa Indonesia. Lalu teringat ke F1 tentang salah satu 'Srikandi' lagi yang menjadi CEO salah satu tim F1, dan teringat lagi ke 'srikandi' yang lainnya, yang berkiprah di Motorsports juga.

ISI :
Srikandi #1 : Monisha Kaltenborn
Jabatan : CEO, Sauber Motorsport AG
TTL : Dehradun, India. 10 Mei 1971
Kebangsaan : Austria
Pendidikan Terakhir : - Master of Law, International Business Law, at the London School of Economics (GB)
Dari highlights tentang perjalanan kariernya (bisa dilihat di website tim Sauber) dan gelar yang diraihnya, sedikit bingung. Sarjana hukum tapi kok bisa jadi CEO tim F1 ya. Tetapi setelah ditelisik ternyata awalnya dia memang bekerja di Fritz Kaiser Group yang saat itu mensponsori tim Sauber tahun 1998/1999 sebagai 'legal and corporate affairs of the Red Bull Sauber F1 Team' atau kurang lebih mengurusi hukum juga. Tahun berikutnya dia direkrut oleh Sauber itu sendiri sebagai 'Head of the Legal Department', lalu menjadi 'Member of the Board of Management' di tahun berikutnya, hingga akhirnya menjadi CEO sejak Januari 2010. Keren, mengingat selama ini saya mengira jika ingin masuk tim F1 harus dari bidang teknik, ternyata dari bidang apa pun juga bisa asalkan punya koneksi dengan motorsportnya itu sendiri.

Srikandi #2 : Leena Gade

Jabatan : Race Engineer, Audi Sport.
TTL : Inggris, 10 Maret 1976
Kediaman : London, UK.
Kalau yang satu ini sepertinya pure background teknik walaupun belum ada informasi lengkap, baik dari website Audi Sport, Team Joest, Facebooknya sampai LinkedInnya. Mungkin karena baru dikenal dari balapan Le Mans kemarin. Namun dari secuil info yang berhasil dihimpun, didapat bahwa dia adalah 'the first female race engineer to win the world famous Le Mans 24 Hours which earned Audi a 10th victory in the French sportscar endurance classic.' Memang balapan kemarin dimenangkan oleh Audi Sport Team Joest dengan salah satu race engineernya ya dia ini. Tidak berlebihan kalau dia disebut 'the first female race engineer to win the world famous Le Mans 24 Hours.'


Sebenarnya masih banyak srikandi-srikandi yang lain, tapi sejauh yang saya cari, rata-rata mereka adalah pembalap itu sendiri. Sebut saja :
Lella Lombardi , hingga saat ini merupakan satu-satunya pembalap F1 wanita yang meraih poin pada GP Spanyol 1975.







Michèle Mouton, hingga saat ini merupakan satu-satunya wanita yang berhasil menjuarai balap WRC di Italia tahun 1981, dan menurut Wikipedia dituliskan 'She is the most successful and well-known female rally driver of all time, as well as arguably the most successful female in motor racing as a whole.'


Danica Patrick, wanita pertama yang menjuarai balapan IndyCar di Jepang tahun 2008. Karena kecantikannya dan, eemh, keseksiannya, dia juga menjadi model untuk beberapa majalah, iklan, dan acara TV. Dia juga memenangi Nickelodeon Kids' Choice Awards 2008 sebagai atlet wanita terfavorit.








...dan masih banyak lagi. Tetapi yang berada di balik layar (seperti CEO dan Race Engineer tadi) masih jarang, mungkin banyak tapi sayangnya kurang terekspos. Dan karena fokus dan cita-cita saya (tetep) juga ingin menjadi orang di balik layar itu. Setidaknya dari artikel ini bisa memacu dan memberi semangat agar saya juga tidak kalah dengan mereka :D

KESIMPULAN :
Para 'Srikandi' ini telah membuktikan, bahwa walaupun berada di lingkungan yang bisa disebut sebagai 'dunia lelaki', mereka tetap bisa bersinar dan mengalahkan segala keraguan dan pandangan remeh dari semua orang. Memang tidak mudah, butuh determinasi, perjuangan, passion dan kerja keras. Jadi, nothing is impossible. Yang ada hanyalah i'm possible!

Sabtu, 04 Juni 2011

Lentera Jiwa

salah satu trending topics di otak saya yang diawali dari link Hidup Mahasiswa! http://fuckyeahmahasiswa.tumblr.com/ yang nampilin lagu dari Nugie yang berjudul sama - Lentera Jiwa http://lenterajiwa.com/



udah ditonton videonya? belom? liat dulu sebelum lanjut baca *maksa*

dari segi pribadi, asli saya iri sama pemain harpa professional yang asli lulusan teknik mesin, pengen -___- tapi gapengen jadi pemain harpa professional haha

okey jadi : beberapa pertanyaan.

- "lentera jiwa anda apa dong kalau gitu?"
gampang, Motorsport. All About Racing, Cars.

- "beneran itu lentera jiwa lu?"
gatau juga sih, saya ga bilang langsung kalo "ini dia lentera jiwa saya!" tapi kalo dirunut dari kecil sampe sekarang, dari kecil sering merhatiin ayah saya kalo lagi bongkar mobil (mobil pertama keluarga : Fiat 131 Mirafiori CL 1600 buatan tahun 1983, dibeli tahun 1992, udah dijual tahun 2000 ke saudara n sekarang gatau kemana), sering gambar mobil di kertas A4, mulai dari masih kotak banget sampe sekarang semakin smooth B-) *tapi tetep aja baru bisa gambar samping dua dimensi belum bisa tiga dimensi --* udah ga keitung mungkin lebih dari ratusan kali haha, and itu bidang yang saya gapernah bosen sama sekali, bukan suka yang musiman. mungkin sudah tertanam di DNA saya kali haha XD *naon*

- "yakin nih?"
cerewet lu == iyaa Insya Allah yakin :D

- "sempet kepikiran bidang lain gitu?"
ehm, sempet sih, apalagi kalo misalkan dihubungin sama realita dengan pemikiran realistis, tapi kalau soal lentera jiwa, kayaknya ini deh :D

- "realistis ga?"
plis deh jangan tanya itu --' sejauh ini sih saya ngerasa realistis aja (iya dong biar semangat :D), tapi kalaupun ga realistis, ya dibikin realistis, jangan menyerah.
hal yang paling realistis adalah membuat sesuatu yang tidak realistis itu menjadi realistis.(Aditya Satriady; 2011)

- "oh iya emang cita-cita lu apa?"
liat aja post kedua di bawah XD

- "jadi?"
jadi apa? bertindak. ayoo kejar lentera jiwamu!

sebelumnya juga ada cerita dari kakak kelas saya, ka Atiqah Amanda Siregar, sekarang di Manajemen UI, tapi dia sempet curhat kalau sebenernya dia pengennya jurusan Psikologi. nah saya sempet tanya emang nyaman ngejalaninnya? dia jawab (walaupun saya agak lupa sih) "gapapa sih enjoy aja, kalau kita awali dengan Bismillah, Insya Allah ngejalaninnya juga asyik kok."

jadi, walaupun kita menekuni yang bukan lentera jiwa kita, bisa tetep asyik ko. apalagi teringat kata "Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan, melainkan apa yang kita butuhkan". walaupun saya belum dapet update lagi dari dia sekarang masih enjoy ga hehe.

kesimpulan? ehm, saya bukan pengambil kesimpulan yang baik, jadi anda bisa mengambil kesimpulan masing masing :D

"sudah menemukan lentera jiwamu? your time is limited..."